Blog ini merupakan salah satu sarana untuk berekspresi, menyimpan memori agar tak terlindas begitu saja oleh waktu. Dalam blog ini tercantum cerpen, puisi, maupun kumpulan tugas kuliah. Semoga Bermanfaat dan Memberi Begitu Banyak Inspirasi. ^.^v
Sabtu, 03 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
Tuhan, Kau Di mana?
Aku sempat bercinta dengan Tuhan
Kunikmati tiap detik perjumpaan denganNya
Dengan penuh hasrat ku bermunajat
Berharap tiap bait doa ‘kan terwujud
Namun kini Tuhan membuatku murka
Kuterpuruk dalam duka lara
Tak ada seorangpun bersimpati padaku
Kalimat demi kalimat satir terlontar dari lisan yang tengah kecewa
Tuhan... Kau di mana?
Benarkah Kau tak berpaling dariku?
Barang sedetikpun?
Namun, mengapa kini aku masih merasa sendiri?
Sepenggal Karyaku
(30 Juni 2010)
Senandung Rintihan Kalbu
Mencoba menjamah hati
Yang tak pernah bisa ku jamah
Telusuri maksud hati
Yang tak kunjung ku pahami
Maksud baik tak selalu baik
Memang begitulah adanya
Helaan panjang menahan duka yang bersarang
Perlahan ku sadari
Ketika mereka memincingkan mata
Saling berbisik dibalik tabir
Senyuman yang menyiratkan berjuta makna
Tegur sapa yang terasa begitu hambar
Aaahhh....
Sandiwara itu begitu menyayat hati
Perlahan ku sadari
Mereka hardik sisi lain dari diriku
Bertubi-tubi hujatan dan cercaan
Mereka persembahkan
Melucuti asa yang kian memudar
Hei dengar!!
Dengarlah jerit hati yang meronta!
Dengarlah detak jantung yang memompa duka!
Rasakanlah disetiap aliran darah ini mengalir kesedihan yang mendalam
Menjerit,
Meronta,
Meringis,
Arrgghhh....
Tak ada yang peduli
Percuma saja!
Tapi sampai kapan?
Menyerah?
Ataukah tetap bertahan?
Mengumpulkan segenap asa, menjemput impian
Tuhan...
Tunjukkan jalan-Mu
Biarkan mereka tinggalkan
Diri yang ringkih ini
Tapi aku yakin
Sedetikpun aku tak kan luput dari pengawasan-Mu
(03 Mei 2010)
Memori Masa Lalumu
Mencoba tuk menghalau duka
Lewat asa yang masih tersisa
Sayup-sayup ku dengar
Rintihan syahdu jeritan kalbu
Ku terperanjat
Tatkala ku dapati riwayatmu dengan kesakitan purbamu
Entahlah….
Lisan ini kelu seketika
Hati ini mencoba menahan pilu
Bulir-bulir dukapun siap tertumpah
Merembes dari sudut mata yang sayu
Bagaimana mungkin ku hardik masa lalumu?
Sementara kini cintamu telah mengaliri tubuhku
Merasuk ke dalam sukma
(04 Mei 2010)
Kembalilah Impianku
Ketidakberdayaanku membawaku pada titik terendah
Berbagai pertanyaan terlintas, apa yang salah??????
Oh impianku.....
Anganku.........
Kemana kau?????
Aku hampa... jenuh...
Dimana semangat itu?????
Semangat yang membuatku merasa kuat menghadapi dan menghalau rintangan yang kian menghadang.
Aku meradang....
Kian hari rasa jenuh ini merayuku tuk melupakanmu... duhai impianku...
Aku tak ingin terus menerus seperti ini!!!!!
Semangat..... ku mohon.... kembalilah padaku... buat ak seperti dulu lagi...
Kembalilah... warnai hari-hari ku....
Tak ada 1 pun yang peduli,
Hanya kau yang ku miliki saat dunia menjauh dariku.
SEMANGAT!!!!!!
Kata yang kian menghiasi dan memberikan energi untukku..!!!!
Bawa kembali mimpi-mimpi itu....
Harapan itu...
Meskipun dunia meremehkanku, menjauh dan tak pedulikan aku yang seorang ini,
tapi bersamamu.... akan ku tebas rasa hampa dan ketidakberdayaan ini!!!!!
"Bermimpilah... karena Tuhan akan memeluk impianmu itu"
Berbagai pertanyaan terlintas, apa yang salah??????
Oh impianku.....
Anganku.........
Kemana kau?????
Aku hampa... jenuh...
Dimana semangat itu?????
Semangat yang membuatku merasa kuat menghadapi dan menghalau rintangan yang kian menghadang.
Aku meradang....
Kian hari rasa jenuh ini merayuku tuk melupakanmu... duhai impianku...
Aku tak ingin terus menerus seperti ini!!!!!
Semangat..... ku mohon.... kembalilah padaku... buat ak seperti dulu lagi...
Kembalilah... warnai hari-hari ku....
Tak ada 1 pun yang peduli,
Hanya kau yang ku miliki saat dunia menjauh dariku.
SEMANGAT!!!!!!
Kata yang kian menghiasi dan memberikan energi untukku..!!!!
Bawa kembali mimpi-mimpi itu....
Harapan itu...
Meskipun dunia meremehkanku, menjauh dan tak pedulikan aku yang seorang ini,
tapi bersamamu.... akan ku tebas rasa hampa dan ketidakberdayaan ini!!!!!
"Bermimpilah... karena Tuhan akan memeluk impianmu itu"
Ku percaya HARAPAN ITU MASIH ADA!!!!!!
(5 Juni 2010)
Hanya Sebatas Janji
Tatkala janji itu terucap
Lewat lisan yang sering ingkar
Tatkala janji itu terucap
Dan hanya terucap
Maka yang terjadi tinggallah sebatas janji
J.A.N.J.I
1 kata yang apabila dilanggar
Akan membuat hati kecewa
1 kata yang apabila tidak ditepati
Akan membuat hati tersakiti
J.A.N.J.I
Janganlah mengucapkan kata sakral itu!
Bila memang tak sanggup mempertanggungjawabkannya.
(13 Juni 2010)
Sinar Yang Sirna
Kepada lampu yang hampir redup,
Seredup sinar asaku
Kepada dinding kamar,
Kepada foto-foto yang terpajang dengan anggun
Kepada kertas mungil bertuliskan kalimat pembakar asa
Kepada pena yang menggoreskan untaian kata-kata fiktif
Kepada kertas impian,
yang telah menjadi potongan-potongan kertas tanpa makna
kepada tempat sampah, yang baru saja menampung muntahan dan sayatan asa
kepada bulir duka yang terus merembes dari sudut mata yang syahdu
Kepada hati yang tengah kecewa, terluka, tersakiti, teraniaya
“Kalian adalah saksi bisu bagi malam yang memilukan ini”.
(13 Juni 2010)
Melodi Duka
Ku lukiskan kesedihanku lewat bait-bait kata pengikis asa
Asa ku memudar seketika
Jiwaku rapuh tak berdaya
Tak terhitung berapa banyak bulir-bulir duka,
yang mengalir deras dari sudut mata yang syahdu
melodi lirih penyayat hati, mengiringi tetesan duka
berpadu dalam simfoni luka
kemana hendak ku bawa asa ini?
Asa yang telah memudar
Karena api semangat padam seketika.
(14 Juni 2010)
Malampun Membisu
Aku masih terjaga ketika semua tengah terlelap,
Ku sapu pandangan ke sekeliling tempatku merebahkan tubuh yang ringkih ini.
Nanyian pilu masih menggema,
Menyeretku pada lakon yang menyayat kalbu
Apa dan siapa yang harus dipersalahkan?
Ketika sinar asa yang perlahan mulai sirna,
Ketika hati mencoba tegar laksana karang yang terhempas badai,
Ketika sudut mata yang sayuberusaha semampunya untuk menampung bulir duka
Ketika tanya tak juga peroleh jawaban...........
Dan malampun membisu.
(15 Juni 2010)
Memori Pilu
Bulan bercengkrama dengan pekatnya malam syahdu.
Bintang-bintang turut ambil bagian, menebar pesona akan elok wujudnya.
Semua tengah terlelap,
Sementara diriku masih saja enggan tuk memejamkan mata ini.
Butiran kristal menderai pipi,
Hanyut dalam lamunan pilu.
Lamunanku menyeret paksa diriku tuk kembalikan memori kesakitan purbaku
Ahhh....
Memoar yang memilukan
Terlintas tanya dalam benakku, “Apa dan Siapa yang harus dipersalahkan?”
Seribu tanya mengharap seribu jawab
Namun, tetap saja tak ada respon.
Malam yang pekat, sepekat duka ku.
Iapun enggan berkomentar.
(23 Septermber 2010)
Perlahan satu persatu
Orang-orang yang dulu dekat denganku
Kini menjauh...
Mereka pergi membawa kepercayaanku, merenggut
Sejumput asa yang pernah ku jaga
Satu persatu, mereka enyah dari hidupku.
Kini aku hanya sendiri,
Berkawan dengan sepi dan duka.
Ku hanyut dalam arus imajinasi,
Apakah akuvmemang pantas sendiri?
Mereka yang dulu ku banggakan, kini
Enyah entah kemana
Tak ada lagi tempatku berbagi kisah dan rasa
Tak ada yng mendengar jerit hatiku
Mereka tutup rapat-rapat mata dan telinga,
Hingga jeritku, seperti anai yang bertebaran.
(24 September 2010)
Ku sapa pagi ini dengan kristal bening yang masih tersisa.
Namun, terpaan mentari seolah menghangatkan hatiku.
Kicauan burung sahut menyahut,
Menentramkan gundah gulana.
Semalaman ku terjaga,
Berkawan duka dan air mata.
Entah, terbuat dari apa hatiku ini?
Mengapa begitu renta?
Hingga sedikit saja ada yang melukai perasaanku, maka dengan mudah kristal-kristal bening menderai di pipiku.
Dan aku bertanya pada duka.
Terbuat dari apakah hatinya?
Bagaimana mungkin terdengar suara tepuk tangan?
Jika hanya satu tangan tanpa tangan lainnya.
Entah mengapa, seolah dia mengejek perasaanku,
Hingga aku laksana anai yang bertebaran dihadapannya.
(28 September 2010)
SepuluhBulanAkuDanDia
Mencintaimu terkadang membuatku pilu
Merindumu terkadang membuat hatiku kelu,
Derai air mata yang terlampau sering mengalir, membentuk anak sungai di pipi ini,
Canda tawa, senda gurau, kesalahpahaman, curiga, cemburu.
Hampir setiap hari menemani hari-hari kita.
Kau benar Sayang,
Semakin hari semakin berkurang jatah kontrak kita yang diberikanNya.
Disepuluh bulan ini,
Kupetik sebuah harap,
Semoga kau tulus mencintaiku,
dan menerimaku dengan segala kelemahan yang melekat pada diriku.
Rabu, 16 November 2011
Tugas Menulis Ilmiah
SIKAP POSITIF TERHADAP BAHASA INDONESIA
Winda Yulfamita Rahman
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Indraprasta PGRI
Jalan Nangka 58C, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Indonesia
winda.yulfamita@gmail.com
Abstrak
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa negara bagi bangsa Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjelma sebagai bahasa pemersatu bagi berbagai suku, sosial, budaya yang berbeda-beda. Sedangkan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar kenegaraan. Sebagai pemilik dan pengguna bahasa, tentunya sikap positif terhadap bahasa Indonesia itu sendiri mutlak diperlukan. Sikap positif tersebut dapat diwujudkan dengan adanya kesetiaan terhadap bahasa Indonesia itu sendiri. Adanya rasa bangga dan kesadaran akan norma-norma yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia dapat ditanamkan dalam diri siswa melalui pembelajaran kreatif agar bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang menjemukan, sehingga kasus kemerosotan nilai Ujian Nasional bahasa Indonesia dapat diantisipasi. Selain itu, dalam diri mahasiswa juga turut berperan dalam kemajuan dan kelestarian bahasa Indonesia, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dapat dikatakan bahwa hal itu sebagai langkah awal dalam memilki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Minimnya sikap positif lebih banyak diakibatkan oleh adanya sikap meremehkan dan ketidakpedulian terhadap bahasa Indonesia. Bersikap positif terhadap bahasa Indonesia bukan berarti menuntut bahwa setiap warganya menjadi ahli bahasa, akan tetapi setidaknya melalui sikap positif ini setiap pengguna bahasa Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan dan benar dan memiliki keterampilan berbahasa yang dapat diaplikasikan dengan disiplin ilmu lainnya.
Kata kunci : sikap positif, bahasa indonesia
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa negara bagi bangsa Indonesia. Bahasa inilah yang digunakan oleh seluruh masyarakat dalam berinteraksi dengan sesama masyarakat Indonesia, terutama yang memiliki latar belakang (suku) yang berbeda-beda. Sudah 83 tahun bahasa Indonesia dinobatkan sebagai identitas bangsa pada Sumpah Pemuda 1928. Sebagai pemilik bahasa, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya bahasa Indonesia sering kali dianggap remeh oleh pemiliknya sendiri, terutama oleh kalangan remaja dan mahasiswa. Salah satu faktanya, nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA beberapa tahun belakangan ini menunjukkan keprihatinan. Sebut saja pada UN SMP tahun 2011 ini, dibandingkan mata pelajaran lainnya, nilai bahasa Indonesia dinobatkan sebagai yang terendah, dengan rata-rata 7.49. Sementara itu, nilai rata-rata mata pelajaran bahasa Inggris justru berada di peringkat teratas, yaitu 7.65.
Mahasiswa yang notabenenya adalah orang-orang berpendidikanpun tidak luput dari minimnya bersikap positif terhadap bahasa Indonesia, hal ini dapat dibuktikan ketika mereka berbahasa, baik dalam ragam lisan maupun ragam tulis. Dan lebih diperparah lagi ketika mahasiswa khususnya yang berkecimpung langsung pada disiplin ilmu yang terkait dengan bahasa Indonesiapun tidak luput dari kesalahan. Bisa dipastikan, dari sekian banyak mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hanya segelintir orang yang memahami Ejaan Yang Disempurnakan, misalnya tanda baca dan kata baku. Dengan minimnya pemahaman terhadap EYD, tentu sudah dapat diterka bagaimana kemampuan mereka ketika membuat suatu karya tulis ilmiah. Selain itu, hal memprihatinkan juga tampak ketika bahasa Indonesia tidak mampu menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri. Masyarakat Indonesia lebih senang menggunakan bahasa asing –bahasa Inggris-, seperti welcome, exit, open, close, dan sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa tertarik untuk membuat karya tulis mengenai “Sikap Positif Terhadap Bahasa Indonesia”.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan masalah dalam karya tulis ini, yaitu “Apakah perlu bersikap positif terhadap bahasa Indonesia?”
B. PEMBAHASAN
1. Tinjauan Teori Sikap
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan; perilaku, gerak-gerik. Sikap (attitude) didefinisikan oleh Robbins sebagai pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa. Hal ini mencerminkan bagaimana perasaan seseorang tentang sesuatu. Sementara Kreitner dan Kinicki mendefinisikan sikap sebagai kecenderungan merespon sesuatu secara konsisten untuk mendukung atau tidak mendukung dengan memperhatikan objek tertentu. Harvey dan Smith menegaskan bahwa sikap adalah cara bertindak tersebut cenderung positif dan negatif. Sikap tidak tampak dan tidak dapat diamati, yang tampak adalah perilaku atau tindakan. Sikap bukanlah pembawaan sejak lahir, sikap dapat berubah melalui pengalaman, merupakan organisasi keyakinan, merupakan kesiapan untuk memberikan reaksi, relatif tetap, hanya cocok untuk situasi tertentu, serta merupakan penilaian dan penafsiran terhadap sesuatu.
Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan pengertian sikap sebagai organisasi keyakinan-keyakinan yang merupakan kesiapan mental psikologis untuk mereaksi dan bertindak secara positif atau negatif terhadap objek tertentu. Dalam karya tulis ini, penulis berfokus pada sikap positif yang terkait dengan bahasa Indonesia.
2. Bahasa Indonesia
Apabila ingin membicarakan bahasa Indonesia, mau tidak mau kita harus membicarakan bahasa Melayu sebagai sumber (akar) bahasa Indonesia yang kita pergunakan sekarang. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu, yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca), bukan saja di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara (Arifin dan Tasai, 2008: 5).
Menurut Arifin dan Tasai (2008: 8) ada beberapa faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu: (1) bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan, (2) sistem bahasa Melayu sederhana sehingga mdah dipelajari, (3) suku-suku di Indonesia dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahassa Indonesia sebagai bahasa nasional, (4) bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahassa kebudayaan dalam arti yang luas.
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, sepertiyang tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Peemuda 1928 yang berbunyi “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional; kedudukannya berada di atas bahasa daerah. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesa berfungsi sebagai: (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar sosial budaya yang berbeda.
3. Analisis Masalah
Pada umumnya orang Indonesia dapat berbahasa Indonesia untuk keperluan sehari-hari, dapat menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan. Sebagai warga negara yang baik, sudah seyogyanya kita mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar (Effendi, 2010:3). Namun, hal ini bukan berarti mengharuskan bahwa setiap warga Indonesia khususnya siswa dan mahasiswa dituntut menjadi ahli bahasa. Kemampuan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan keperluannya adalah tujuan sesungguhnya mereka mempelajari bahasa Indonesia.
Fakta yang mengejutkan adalah tidak adanya sikap positif terhadap bahasa Indonesia, baik dikalangan siswa maupun mahasiswa. Beberapa tahun belakangan, nilai Ujian Nasional bahasa Indonesia siswa SMP dan SMA menduduki peringkat terendah daripada pelajaran lainnya yang diujikan. Timbul pertanyaan, apa yang salah dengan fenomena ini? Mengapa bahasa asing justru menduduki peringkat tertinggi daripada bahasa Indonesia yang notabenenya adalah bahasa sendiri?
Terjadi beberapa problematika makro dalam pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain: (1) kebijakan bahasa Indonesia yang berkembang saat ini terjebak pada politik identitas semata. Bahasa Indonesia dianggap sebagai ornamen unutk membnagkitkan semangat “nasionalisme”. (2) kurikulum pembelajaran bahasa Indoneisa yang terus berubah hanya menjadi simbol dalam memenuhi target “penyesuaian” atau pembaruan” pada tingkat satuan pelajaran. (3) sikap terhadap pelajaran bahasa Indonesia tergolong “pas-pasan”. Masih banyak guru bahasa Indonesia yang tidak memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia, mulai dari kapasitas pelajaran hingga menciptakan nilai tambah pembelajaran bahasa Indonesia. Guru kehilangan kreativitas saat mengajar di dalam kelas. Guru tidak bangga mengajar bahasa Indonesia, di samping tidak memiliki kemampuan berbahasa yang memadai. Alhasil, guru tidak mampu menjadi model berbahasa Indonesia bagi siswa. Belajar bahasa Indonesia kemudain diklaim monoton dan membosankan. (4) pembelajaran bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan otoriter dalam memasyarakatkan bahasa Indonesia yang baku.
Semua pihak memiliki kontribusi yang berbeda bagi perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Sikap tidaklah bersifat mutlak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masing-masing pengguna bahasa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif dapat dikatakan sebagai cara kita memperlakukan bahasa Indonesia. Cara kita menuturkan kata dalam bahsa Indonesia. Dalam suatu bahasa, kita kenal dengan EYD. Disinilah kita harus bersikap positif terhadap suatu bahasa, yaitu dengan menuturkan (mengucapkan) kata/kalimat dan atau menuliskanya sesuai dengan EYD. Bukan hanya agar budaya kita tetap terpandang dengan baik. Tetapi agar apa yang kita ingin sampaikan tertuju maksudnya dan tidak diartikan lain. Sikap positif ini, secara sadar harusnya berkembang didalam diri pengguna bahasa.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia dapat diwujudkan dengan (1) kesetiaan bahasa, memelihara bahasa Indonesia itu sendiri, (2) kebanggan bahasa, menggunakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa, dan (3) kesadaran akan adanya norma bahasa, menggunakan bahasa Indonesia dengan kaidah dan aturan yang berlaku (Arifin dan Tasai, 2008:2).
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
· Sikap merupakan organisasi keyakinan-keyakinan yang merupakan kesiapan mental psikologis untuk mereaksi dan bertindak secara positif atau negatif terhadap objek tertentu. Sikap positif dalam hal ini adalah bagaimana cara kita sebagai pengguna bahasa Indonesia memberikan kontribusi yang positif dalam perkembangan dan kelestarian bahasa Indonesia itu sendiri.
· Sikap positif terhadap bahasa Indonesia dapat diwujudkan dengan (1) kesetiaan bahasa, memelihara bahasa Indonesia itu sendiri, (2) kebanggan bahasa, menggunakan bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa, dan (3) kesadaran akan adanya norma bahasa, menggunakan bahasa Indonesia dengan kaidah dan aturan yang berlaku.
2. Saran
· Sebagai pengguna bahasa hendaknya kita jangan memandang rendah bahasa Indonesia. Sikap meremehkan dan menganggap rendah merupakan sikap negatif yang dapat melumerkan rasa nasionalisme.
· Sebagai mahasiswa, khususnya yang berkecimpung dalam program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hendaknya benar-benar mampu mengaplikasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan hanya sekedar menelan mentah-mentah berbagai teori yang dipelajari. Jadilah figur yang dapat dijadikan sebagai model bersikap positif terhadap bahasa Indonesia.
· Penggunaan kata asing pada ruang publik hendaknya benar-benar diperhatikan. Jangan sampai posisi bahasa Inodonesia tersaingi dan tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
3. Evaluasi
Kita perlu mempelajari bahasa Indonesia -sebagai bahasa nasional dan bahasa negara- dengan sungguh-sungguh sehingga kita benar-benar menguasainya baik sebagai alat komunikasi sehari-hari maupun sebagai alat pemanfaatan ilmu dan teknologi. Tentunya dengan mempelajari bahasa Indonesia secara sungguh-sungguh, hal itu sebagai salah satu tolok ukur bagaimana kita bersikap positif terhadap bahasa Indonesia itu sendiri.
Daftar Pustaka
Effendi, S. 2010. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Arifin, E.Zaenal dan S. Amran Tasai. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Tim Penyusun Kamus. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
Langganan:
Postingan (Atom)